Jombang, Gerdupapak.com – PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), anak perusahaan PTPN III (Persero) Holding Perkebunan, menargetkan giling tebu sebesar 13,5 juta ton dan memproduksi Gula Kristal Putih (GKP) sebesar 978 ribu ton dengan kualitas Standar Nasional Indonesia (SNI) di tahun 2024.
PT. SGN berdiri sejak tahun 2021 dan di tahun 2023 sudah mampu membuktikan sesuai dengan harapkan Menteri BUMN Republik Indonesia Eric Thohir, bahwa pembentukan PT. SGN yang secara internal menjadi perusahaan yang sehat.
Hal ini disampaikan Komisaris Utama PT. SGN M. Abdul Ghani melalui Zoom Metting Rapat Koordinasi Manajemen. Sabtu(3/2/24).
” Tahun lalu kita bisa mencapai EBITDA ( pendapatan perusahaan yang belum dikurangi bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi) diatas Rp 1 triliun dan ini merupakan suatu kebanggan, karena dalam sejarah PTPN sejak 20 tahun belum pernah mencapai EBITDA diatas Rp 1 triliun,” ujarnya.
Lanjutnya, ini merupakan tantangan kedepan yang dihadapi PT. SGN yaitu menjadi backbound kemandirian gula nasional, karena telah diamanatkan pemerintah untuk menjadi bagian dari kemandirian gula nasional melalui Perpres nomor 40/2023.
” Prinsip yang kita tanamkan adalah Indonesia miliki potensi sebagai produsen gula yang bukan hanya mampu memenuhi kebutuhan gula dalam negeri, tetapi juga mengekspor gula. Ini bisa terwujud apabila kita bisa meningkatkan produktifitas tebu petani, ” tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama SGN Aris Toharisman melalui General Manager (GM) Pabrik Gula Tjoekir Abdul Azis Purmali menyebut, pihaknya telah menyiapkan beberapa strategi untuk mencapai target tersebut. Strategi ini juga sudah dilakukan di sepanjang tahun 2023 dan berhasil mencatatkan kinerja impresif pada tutup buku tahun 2023.
” Melanjutkan transformasi PTPN Group, tahun 2023 merupakan tahun pertama PT. SGN mengelola 36 Pabrik Gula yang semula berada dibawah pengelolaan PTPN gula. Walaupun mengalami penurunan jumlah tebu giling akibat efek El Nino, namun rendemen yang dicapai naik menjadi sebesar 7,19 persen atau meningkat 111,6 persen dibandingkan tahun 2022. Strategi regionalisasi merupakan salah satu kunci keberhasilan SGN pada tahun 2023,” ungkapnya.
PT. SGN bersama mitra petani tebu berhasil mengembalikan pola kemitraan dari transaksional pembelian tebu menjadi sistem bagi hasil yang lebih menguntungkan kedua pihak. Sistem ini membagi 36 pabrik kedalam 7 region, Masing-masing region mengatur awal giling. Sehingga setiap pabrik mendapatkan kepastian pemenuhan bahan baku.
” Melalui sistem regionalisasi pabrik dengan efisiensi lebih tinggi dan harga pokok produksi rendah mendapatkan kesempatan memulai giling lebih awal, maka dengan strategi ini pabrik-pabrik gula dapat beroperasi pada kapasitas optimal dengan meminimalkan kompetisi antar pabrik gula sesaudara, ” paparnya.
Selain itu, Mitra petani menyambut baik pemberlakuan bagi hasil, sehingga PT. SGN bersama para petani tebu dapat bersinergi secara positif. Hakekat kemitraan antara petani tebu dengan pabrik gula adalah melalui sistem bagi hasil yang menguntungkan masing-masing pihak. Hal tersebut akan membuat petani termotivasi meningkatkan kualitas budidaya tebu serta berbanding lurus dengan apresiasi dari pabrik gula, sehingga berdampak pada tingkat kesejahteraan mereka. Sedangkan Pabrik gula sangat terbantu dengan bahan baku tebu yang berkualitas dan berpengaruh pada kuantitas, kualitas produksi gula serta performa pabrik.
” Keberhasilan tersebut berkat dukungan semua pihak, entitas eks PTPN gula sebagai pengelola on farm, PTPN Group, mitra petani, perbankan dan rekanan yang mendukung proses bisnis berjalan dengan baik. Kedepannya akan miliki potensi sebagai produsen gula yang bukan hanya mampu memenuhi kebutuhan gula, tetapi juga mengekspor gula. Ini bisa terwujud apabila kita bisa meningkatkan produktifitas tebu petani,” jelasnya.
Abdul Azis juga menambahkan, semua itu kuncinya ada di kemitraan, sementara PT SGN Tjoekir memiliki 8 Kecamatan dalam membangun kemitraan bersama petani tebu dengan lahan 5.500 hektar. Sedangkan karyawan mencapai 500 orang, untuk petani 700 orang. Saat tebang kita memiliki 2000 penebang. Dan pengangkut tebu dari lahan menuju pabrik ada ,300 orang. Hal tersebut untuk menunjang kesejahteraan dan memberikan solusi peningkatan perekonomian kita setiap bulan serta kita adakan juga ruang diskusi temu mitra setiap bulannya.(Zul/Nyf).






