Jombang, Gerdupapak.com – Dalam upaya memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan sesuai standar nasional, Mitra Dapur SPPG Cukir 2 menerapkan prosedur distribusi yang sangat ketat dan transparan. Seluruh tahapan mulai dari produksi hingga penyerahan kepada siswa dilakukan sesuai dengan Petunjuk Teknis (Juknis) yang ditetapkan pemerintah.
Mitra Dapur SPPG Cukir 2, melayani sebanyak 18 sekolah, baik negeri maupun swasta, dengan total penerima manfaat mencapai 2.188 orang. Menu yang disajikan pun telah disesuaikan dengan standar dari Badan Gizi Nasional (BGN). Hal ini disampaikan langsung oleh Perwakilan yayasan Mitra Dapur SPPG Cukir 2, Nur Laila Al Andi ketika di konfirmasi, Jumat (24/4/2026).
“Menu hari ini berupa nasi putih, ayam koloke, mapu tofu, tumis kecambah, sawi serta wortel dan untuk buahnya kelengkeng. Total ada sebanyak 2.188 penerima manfaat dari 18 sekolah negeri maupun swasta,” ujarnya.
Ia menegaskan, sistem pendistribusian tidak dilakukan secara langsung, melainkan melalui tahapan verifikasi yang jelas. Setiap hari, saat makanan tiba di sekolah, dilakukan proses serah terima yang didokumentasikan dalam Berita Acara.
Yang menjadi sorotan utama adalah adanya lembar Laporan Uji Organoleptik yang wajib diisi oleh Penanggung Jawab (PIC) MBG di masing-masing sekolah. Dokumen ini berfungsi sebagai alat kontrol kualitas makanan sebelum akhirnya diserahkan kepada siswa. Hanya setelah dinyatakan layak dan formulir terisi, makanan baru didistribusikan kepada siswa.
“Sebelum menu disalurkan kepada penerima manfaat akan dibuka untuk dilakukan pengecekan oleh PIC MBG sekolah, pengecekan dilakukan menyangkut layak atau tidaknya menu tersebut. Dari hasil pengecekan, mereka akan memberikan review rating 1 sampai 5 mencakup rasa, warna, aroma, dan tekstur dalam lembaran yang sudah disediakan oleh BGN,” paparnya.
Dalam pelaksanaannya, SPPG Cukir 2 memiliki kebijakan tegas terkait kualitas makanan. Jika ditemukan menu yang dinilai tidak memenuhi standar atau tidak layak konsumsi, maka makanan tersebut tidak akan didistribusikan (skip).
“Kalau misal ada kategori menu yang dinilai tidak layak, maka akan dilakukan skip atau tidak didistribusikan. Kalau memang ada menu yang tidak layak akan digantikan di menu hari berikutnya. Tentunya dengan melakukan pemberitahuan kepada penerima manfaat terlebih dahulu,” jelasnya.
Sebagai contoh, jika buah yang dikirim kondisi terlalu matang atau rusak, maka akan diganti pada hari berikutnya dengan porsi ganda (double). Hal ini dilakukan setelah berkoordinasi terlebih dahulu dengan pihak sekolah.
Nur Laila juga menyarankan agar seluruh menu MBG dikonsumsi langsung di lingkungan sekolah sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) BGN. Hal ini bertujuan agar sisa makanan dapat menjadi bahan evaluasi yang akurat.
“Sebab selain dari hasil review PIC, hasil makanan sisa yang kembali tersebut juga bisa menjadi evaluasi SPPG terkait menu. Supaya kita juga bisa memikirkan bagaimana menu tersebut bisa dikonsumsi dengan model lain, agar kebutuhan gizi benar-benar terpenuhi,” ucapnya.
Berdasarkan data review hari ini, secara umum kondisi makanan dinyatakan aman dan tidak basi. Namun, terdapat catatan masuk terkait rasa tumisan yang dinilai kurang gurih atau hambar, serta minat siswa yang masih kurang terhadap jenis sayuran tertentu.
Ke depannya, SPPG Cukir 2 berencana akan menggelar rapat koordinasi rutin dengan seluruh PIC sekolah. Tujuannya adalah menyamakan persepsi dan memperbaiki kualitas menu, sehingga pemenuhan asupan gizi bagi para siswa dapat berjalan optimal. Pungkasnya. (Rd/Nyf).






