Jombang, Gerdupapak.com – Pemerintah Kabupaten Jombang melalui Dinas Pertanian melaksanakan panen raya tembakau di Desa Bawangan, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang. Dipimpin Bupati Jombang Warsubi didampingi, Wakil Bupati Jombang, Salmanudin Yazid, beserta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Jombang. Menjadi momentum untuk memperkuat pengembangan komoditas tembakau sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan petani.

Tembakau menjadi salah satu komoditas perkebunan yang memiliki potensi besar di Kabupaten Jombang. Hingga 30 September 2026, luas tanam tembakau di Jombang tercatat sekitar 6.508,7 hektare, dengan produktivitas daun basah berkisar 15–17 ton per hektare. Hal ini disampaikan Bupati Jombang, Warsubi ketika sambutan, Rabu (7/10/2026).

“Budidaya tembakau telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di kawasan utara Sungai Brantas, khususnya di Kecamatan Ploso, Kudu, Plandaan, Ngusikan, dan Kabuh. Bagi sebagian petani, tembakau bahkan menjadi pilihan utama dalam pola tanam setelah padi,” ujarnya.

Warsubi menegaskan, Pemerintah Kabupaten Jombang terus memberikan dukungan agar potensi tembakau dapat berkembang dan memberikan manfaat yang semakin besar bagi kesejahteraan petani.

“Melalui APBD Tahun Anggaran 2026, Pemkab Jombang mengalokasikan sejumlah sarana dan prasarana budidaya, di antaranya hand tractor rotary, 350.000 kilogram atau 350 ton pupuk NPK tembakau, serta 19 unit mesin perajang tembakau,” sebutnya.

Selain itu, dukungan juga diberikan melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT), antara lain dalam bentuk pelatihan budidaya hingga pascapanen, demplot pembenihan dan varietas unggul tembakau, pengembangan kemitraan, serta berbagai kegiatan peningkatan kapasitas petani.

“Kita juga terus memperkuat ketersediaan benih unggul dan bersertifikat melalui penangkar benih tembakau yang telah mendapatkan rekomendasi sebagai produsen benih. Dengan dukungan ini, kita berharap produksi, produktivitas, dan kualitas tembakau Jombang semakin baik,” katanya.

Warsubi juga menekankan pentingnya penguatan pemasaran dan kemitraan seiring dengan peningkatan produksi. Menurutnya, tembakau Jombang memiliki karakter dan cita rasa yang khas serta telah diterima di berbagai daerah.

Ia berharap hubungan antara petani dengan pabrikan maupun pembeli atau buyer dapat terus dibangun secara sehat dan saling menguntungkan.

“Petani membutuhkan kepastian pasar dan harga yang wajar, sementara pihak pembeli membutuhkan tembakau dengan kualitas dan kontinuitas yang terjaga. Keduanya harus dipertemukan melalui kemitraan yang terbuka, adil, dan memberikan manfaat bagi kedua belah pihak,” tuturnya.

Ke depan, lanjutnya, pengembangan tembakau di Jombang akan semakin diarahkan pada penguatan agribisnis dan agroindustri. Kapasitas petani perlu terus ditingkatkan agar mampu melakukan efisiensi usaha tani, menjaga mutu, mengembangkan inovasi, serta memperluas jejaring pemasaran.

Regenerasi petani juga menjadi perhatian, dengan mendorong generasi muda dan petani milenial untuk melihat sektor pertanian sebagai bidang usaha yang memiliki prospek dan masa depan.

“Panen raya yang kita laksanakan hari ini saya harapkan bisa menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk memperkuat komoditas tembakau Jombang,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang M. Rony menyampaikan bahwa potensi ekonomi tembakau di lima kecamatan kawasan utara Sungai Brantas tergolong besar.

Lima kecamatan tersebut meliputi Ploso, Kudu, Plandaan, Ngusikan, dan Kabuh. Dari total luas tanam tembakau di Kabupaten Jombang, luas panen di kawasan tersebut mencapai sekitar 5.198 hektare, atau sekitar 85,75 persendari total luas tanam.

“Potensi ekonomi yang dihasilkan dari lima kecamatan di utara Brantas ini sangat fantastis. Luas panennya mencapai 5.198 hektare dan melibatkan sekitar 15.000 petani lokal,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, berdasarkan perhitungan potensi produksi dan harga daun tembakau basah, komoditas tersebut diperkirakan mampu menghasilkan nilai transaksi hingga Rp487 miliar. Nilai tersebut menunjukkan besarnya kontribusi tembakau terhadap perputaran ekonomi masyarakat, khususnya di wilayah sentra produksi tembakau.

“Estimasi perputaran ekonomi dari daun basah mencapai Rp487 miliar dengan melibatkan sekitar 15.000 petani. Ini menunjukkan bahwa tembakau bukan hanya komoditas pertanian, tetapi juga memiliki dampak ekonomi yang besar bagi masyarakat,” jelasnya.

Rony menambahkan, berbagai program pengembangan tembakau pada 2026 didukung melalui alokasi DBHCHT Tahun Anggaran 2026. Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat sarana produksi dan pascapanen.

“Adapun dukungan yang direalisasikan antara lain 350 ton pupuk NPK tembakau untuk sekitar 6.500 hektare lahan, bantuan 4 unit traktor roda empat, 19 unit mesin perajang tembakau, serta 3 unit kendaraan angkut roda tiga,” ucapnya.

Menurutnya, bantuan tersebut diharapkan dapat membantu petani meningkatkan efisiensi usaha tani, memperbaiki kualitas hasil produksi, serta memperkuat kegiatan pascapanen.

Dengan dukungan pemerintah, penguatan kemitraan, serta keterlibatan aktif petani, pengembangan tembakau di Jombang diharapkan tidak berhenti pada peningkatan produksi, tetapi juga mampu meningkatkan nilai tambah dan memperkuat perekonomian masyarakat di kawasan sentra tembakau. Pungkasnya. (Rud/Nyf).