Jombang, Gerdupapak.com – Pemerintah Desa Bandung, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, menyatakan kesiapannya mendukung langkah komprehensif penanggulangan Tuberkulosis (TBC) melalui skrining aktif dan edukasi masyarakat.
Langkah tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut peluncuran Peraturan Bupati (Perbup) Jombang Nomor 25 Tahun 2026 tentang Skrining Aktif dan Edukasi Tuberkulosis (TBC).
Skrining aktif menjadi salah satu upaya untuk memutus mata rantai penularan TBC di masyarakat. Pelaksanaannya dilakukan dengan mendatangi warga yang memiliki gejala atau berisiko terpapar TBC. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang, Hexawan Tjahja Widada ketika diwawancarai di Balai Desa Bandung, Kamis (17/9/2026).
“Yang sekiranya ada gejala-gejala batuk dan lain-lain mulai dikumpulkan, kemudian dibawa ke balai desa. Sehingga dilakukan kegiatan skrining kesehatan, kemudian skrining untuk kasus TBC, setelah itu dilakukan pemeriksaan foto rontgen,” ujarnya.
Ia menjelaskan, TBC merupakan penyakit yang dapat menular melalui udara. Apabila tidak ditangani, penyakit tersebut dapat menyebabkan kerusakan paru-paru dan menimbulkan risiko serius bagi penderitanya.
Menurutnya, gejala awal TBC yang perlu diwaspadai antara lain batuk yang berlangsung lebih dari dua hingga tiga minggu dan tidak kunjung sembuh. Pada kondisi tertentu, penderita juga dapat mengalami batuk darah.
“Kalau terlambat, risikonya kematian karena fungsi organnya berkurang. Tapi kalau ketahuan dari awal, diobati, insyaallah sembuh,” jelasnya.
Hexawan mengimbau masyarakat yang mengalami batuk berkepanjangan agar segera memeriksakan diri ke puskesmas terdekat. Apabila terdiagnosis TBC, masyarakat dapat memperoleh pengobatan secara gratis melalui program pemerintah.
“Harapan kita semuanya, masyarakat yang sekiranya batuk lebih dari dua sampai tiga minggu, agar segera dilakukan pemeriksaan di puskesmas terdekat. Kalau memang terdiagnosis TBC, nanti pengobatannya semuanya gratis dari pemerintah,” ungkapnya.
Ia menambahkan, penanggulangan TBC dilakukan melalui kerja sama pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dan fasilitas pelayanan kesehatan. Upaya skrining tersebut diharapkan dapat menemukan kasus lebih awal sekaligus mencegah penularan yang lebih luas.
Sementara itu, Kepala Desa Bandung, Anang Fauzi, mengatakan, skrining digelar menyusul adanya temuan suspek TBC di Desa Bandung. Puskesmas Cukir melakukan pemeriksaan kesehatan yang mencakup skrining dan pemeriksaan rontgen dengan sasaran sebanyak 200 Keluarga Penerima Manfaat (KPM).
“Sasarannya adalah 200 KPM. Mereka yang pasien tuberkulosis, pasien suspek tuberkulosis, keluarga dari pasien TBC tersebut, dan orang yang sering berinteraksi dengan pasien tuberkulosis,” katanya
Ia menjelaskan, skrining tidak hanya ditujukan kepada warga yang telah dinyatakan positif TBC, tetapi juga masyarakat yang pernah berinteraksi dengan pasien suspek TBC. Langkah ini dilakukan untuk memetakan risiko dan mendeteksi kemungkinan penularan sejak dini.
“Ini tidak hanya menyasar pasien yang sudah positif TBC, tapi juga untuk memetakan atau memitigasi penyebaran dari tuberkulosis, yaitu skrining awal orang-orang yang pernah berinteraksi dengan suspek TBC,” tandasnya.
Anang menyampaikan apresiasinya kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang dan Puskesmas Cukir yang telah memberikan perhatian terhadap kesehatan masyarakat Desa Bandung.
“Semoga dengan adanya kegiatan seperti ini bisa memitigasi lebih awal adanya suspek TBC,” pungkasnya. (Rud/Nyf).






