Jombang, Gerdupapak.com – Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus memperkuat peran Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) agar mampu memberikan pelayanan dasar yang lebih luas dan mudah dijangkau masyarakat. Penguatan dilakukan melalui peningkatan kapasitas kader serta optimalisasi enam bidang Standar Pelayanan Minimal (SPM).
Penguatan tersebut dilakukan melalui kegiatan pembinaan kader Posyandu yang disertai pembagian paket makanan tambahan bagi keluarga balita. Kabupaten Jombang merupakan kunjungan keempat dari total 38 kabupaten/kota di Jawa Timur yang menjadi sasaran pembinaan. Hal ini disampaikan secara langsung oleh Ketua Tim Pembina Posyandu Jawa Timur, Arumi Bachsin, ketika diwawancarai di Wisata Sumber Celeng, Desa Bulurejo, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Rabu (4/11/2026).
“Ada dua agenda, pertama pembinaan kader untuk meningkatkan kapasitas mengenai enam SPM. Kemudian yang kedua pembagian sekitar 320 sampai 350 paket makanan tambahan di setiap titik untuk keluarga balita,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Posyandu kini tidak hanya berfokus pada pelayanan kesehatan ibu dan anak, seperti imunisasi, penimbangan, dan pengukuran balita. Berdasarkan kebijakan pemerintah, Posyandu juga diarahkan menjadi pusat pelayanan terpadu yang mencakup enam bidang SPM.
“Enam bidang tersebut meliputi pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, ketenteraman dan ketertiban umum, serta sosial,” sebutnya.
Karena itu, pembinaan kader juga melibatkan sejumlah perangkat daerah agar pelayanan lintas sektor dapat berjalan optimal.
“Intinya Posyandu diharapkan menjadi lokasi strategis di setiap wilayah yang paling dekat dengan masyarakat untuk mendapatkan enam pelayanan tersebut,” jelasnya.
Arumi mengungkapkan, salah satu tantangan yang dihadapi dalam pengembangan Posyandu adalah regenerasi kader dan menurunnya kehadiran masyarakat di sejumlah wilayah, terutama kawasan perkotaan dan kompleks perumahan.
Perubahan demografi juga membuat beberapa Posyandu mulai mengembangkan pelayanan bagi kelompok lanjut usia (lansia), seiring berkurangnya jumlah keluarga yang memiliki balita di sejumlah lingkungan.
“Kita tidak berhenti hanya pada pembinaan, setelah kegiatan pembinaan, Tim Pembina Posyandu Jawa Timur akan melanjutkan pemantauan dan evaluasi untuk memastikan pelayanan berjalan secara berkelanjutan. Salah satunya melalui kegiatan Bulan Timbang yang dilaksanakan setiap Februari dan Agustus,” ungkapnya.
Melalui kegiatan tersebut, pemerintah dapat memperbarui data kondisi balita, termasuk perkembangan stunting, sekaligus memantau berbagai kondisi kesehatan dan lingkungan masyarakat.
Arumi berharap Posyandu semakin aktif dan menjadi tempat pertama yang mudah dijangkau masyarakat untuk memperoleh pelayanan dasar, terutama yang bersifat promotif dan preventif.
“Harapannya Posyandu semakin aktif dan menjadi rujukan pertama bagi masyarakat, terutama yang ada di desa. Karena Posyandu ini lebih mengarah pada upaya preventif, bukan kuratif,” harapnya.
Ia menambahkan, pelayanan pencegahan seperti imunisasi, penimbangan balita, dan pemeriksaan rutin lansia dapat dilakukan melalui Posyandu. Sementara pelayanan pengobatan atau penanganan penyakit tetap menjadi ranah Puskesmas dan rumah sakit.
“Dengan penguatan tersebut, saya juga berharap keberadaan Posyandu di setiap desa dapat semakin mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, sehingga ibu hamil, keluarga balita, hingga lansia lebih mudah mendapatkan pelayanan dasar tanpa terkendala jarak,” pungkasnya. (Rud/Nyf).






