Jombang, Gerdupapak.com – Tradisi adat Arak Tumpeng Ponco Thuk menjadi puncak rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Desa Pakel 2026. Tradisi budaya yang diwariskan secara turun-temurun tersebut tidak hanya menjadi wujud pelestarian adat istiadat, tetapi juga mengandung pesan penting tentang kepedulian terhadap lingkungan, khususnya menjaga kelestarian sumber mata air.
Dalam tradisi tersebut, masyarakat menyatukan air dari lima sumber mata air yang berasal dari masing-masing dusun. Prosesi ini menjadi simbol doa dan permohonan kepada Tuhan agar hujan segera turun, sehingga masyarakat dapat kembali bercocok tanam, terhindar dari kekeringan berkepanjangan, serta senantiasa memperoleh keberkahan.
Tradisi Arak Tumpeng Ponco Thuk merupakan warisan budaya yang memiliki nilai kearifan lokal. Selain menjadi bentuk ungkapan rasa syukur, tradisi tersebut mengajarkan masyarakat untuk menghormati alam dan menjaga sumber kehidupan.
Keberadaan sumber mata air memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat, terlebih setelah sejumlah wilayah merasakan dampak musim kemarau panjang yang mengakibatkan kekeringan. Hal ini disampaikan Bupati Jombang Warsubi, ketika sambutan di Sumber Ponco Thuk Dusun Curah Paras, Desa Pakel, Kecamatan Bareng, Minggu (8/11/2026).
“Air merupakan sumber kehidupan yang sangat dibutuhkan manusia. Karena itu, keberadaan sumber-sumber mata air harus terus kita jaga dan lestarikan. Jadikan kegiatan hari ini sebagai pengingat akan tanggung jawab kita dalam menjaga kelestarian lingkungan,” pesannya.
Warsubi juga berharap tradisi tersebut terus dipertahankan dan diwariskan kepada generasi mendatang.
“Saya mengajak seluruh masyarakat Desa Pakel untuk bersama-sama merawat sumber mata air sebagai bentuk tanggung jawab menjaga anugerah alam bagi kehidupan anak cucu kelak,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Pakel, Sudarmaji, menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan Ponco Thuk merupakan agenda budaya tahunan yang bertujuan mendidik masyarakat agar semakin mencintai dan menjaga alam, terutama air, udara, dan bumi.
Menurutnya, tradisi tersebut bukan sekadar seremonial, melainkan sarana menanamkan kesadaran kepada masyarakat untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan, baik di tingkat dusun maupun pusat desa.
“Pada dasarnya rangkaian utama acara Ponco Thuk yang merupakan kegiatan budaya tahunan ini mengajak dan mendidik warga Desa Pakel untuk selalu mencintai alam, khususnya air, udara, dan bumi. Budaya menjaga mata air supaya tetap bersih, udara tetap bersih, dan bumi tetap bersih untuk bumi yang lestari,” ujarnya.
Ia menambahkan, tradisi tersebut memiliki kekhasan melalui lima tarian asli Desa Pakel yang menjadi bagian dari prosesi ritual. Salah satunya Tari Amerta Anagari yang mengiringi prosesi penyatuan air dari lima sumber mata air.
Setelah disatukan, air tersebut kemudian dibawa dan dimasukkan ke Sendang Amerta yang berada di kawasan Curah Paras. Prosesi dilanjutkan dengan Tari Bedoyo Amerta Dewanggana sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat dan keberkahan yang diberikan Allah SWT.
Keunikan lainnya terlihat dari pakaian adat khas Desa Pakel yang disebut Janggan Bawono, dengan udeng atau ikat kepala bernama Cemparing Bawono. Pakaian adat tersebut memiliki tiga warna utama, yakni putih, merah marun, dan hitam, yang masing-masing memiliki makna tersendiri.
Warna merah marun melambangkan ketangguhan, semangat kerja keras, serta keberanian masyarakat dalam mempertahankan kebaikan. Warna putih memiliki makna spiritual dan menjadi simbol seseorang yang sedang memiliki doa atau tujuan khusus. Dalam tradisi masyarakat Pakel, pakaian putih juga dikenakan oleh keluarga yang sedang berduka karena kehilangan anggota keluarga. Hal ini menjadi bentuk penghormatan terhadap suasana duka dan mengingatkan masyarakat untuk menghargai perasaan orang yang sedang berbelasungkawa.
Adapun warna hitam menjadi bagian dari identitas pakaian adat masyarakat Desa Pakel yang melengkapi kedua warna lainnya.
“Jadi, pakaian adat ini bukan sekadar busana untuk kegiatan budaya. Setiap warna memiliki makna dan pesan yang mengajarkan nilai kehidupan, mulai dari ketangguhan, keberanian, hingga penghormatan dan doa,” terangnya.
Dalam prosesi Arak Tumpeng Ponco Thuk, setiap dusun juga menampilkan lima jenis tumpeng yang terdiri atas tumpeng sayuran, makanan, hasil bumi, serta kue apem. Sajian tersebut menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas hasil alam dan rezeki yang diberikan Tuhan.
Sudarmaji menyebutkan, puncak peringatan HUT Desa Pakel secara turun-temurun berkaitan dengan penanggalan 5 Jumat Pahing. Namun, pelaksanaan kegiatan disesuaikan dengan hari libur agar masyarakat dapat berpartisipasi lebih luas.
Ia berharap tradisi Ponco Thuk dapat terus dilanjutkan bersama masyarakat. Antusiasme warga menjadi modal penting untuk mempertahankan budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur.
“Melalui tradisi Arak Tumpeng Ponco Thuk, kami tidak hanya merawat warisan budaya leluhur, tetapi juga menghidupkan kembali pesan penting bahwa menjaga alam dan sumber mata air merupakan tanggung jawab bersama demi keberlangsungan kehidupan generasi mendatang,” pungkasnya. (Rud/Nyf).






