Jombang, Gerdupapak.com – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Jombang memperkuat penerapan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) di satuan pendidikan. Penguatan tersebut dilakukan melalui Pendampingan Penyelenggaraan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman Satuan Pendidikan yang digelar di SMP Negeri 3 Jombang. Dibuka secara langsung oleh Sekretaris Disdikbud Kabupaten Jombang Abdul Majid didampingi perwakilan dari Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Timur.

Penerapan BSAN merupakan upaya untuk mencegah sekaligus menangani berbagai persoalan yang dapat mengganggu keamanan dan kenyamanan peserta didik di lingkungan sekolah, termasuk perundungan atau bullying dan kekerasan. Hal ini disampaikan Sekretaris Disdikbud Abdul Majid melalui Kepala Bidang SMP Disdikbud Jombang Eko Sisprihantono ketika di wawancarai di SMPN 3 Jombang, Selasa (22/9/2026).

“Melalui kegiatan ini kami intinya menangani anak-anak terkait bullying maupun kekerasan. Tujuannya bukan hanya penanganan, tetapi lebih kepada upaya preventif atau pencegahan agar persoalan tersebut tidak terjadi,” ujarnya.

Menurut Eko, penerapan budaya sekolah aman dan nyaman tidak dapat dilakukan hanya oleh sekolah maupun Disdikbud. Dibutuhkan keterlibatan berbagai pihak untuk membangun lingkungan pendidikan yang mampu memberikan perlindungan kepada peserta didik.

“Tidak hanya diberikan kepada satuan pendidikan maupun Dinas Pendidikan, tetapi seluruh stakeholder dilibatkan. Penanggung jawabnya adalah Bupati, sedangkan ketuanya Sekda, kemudian pelaksanaan hariannya dilakukan melalui kelompok kerja,” jelasnya.

Ia menambahkan, persoalan yang terjadi pada peserta didik tidak semuanya dapat diselesaikan di tingkat sekolah. Untuk persoalan tertentu, terutama yang berkaitan dengan hukum, diperlukan koordinasi dengan tim di tingkat kabupaten.

“Kalau ada persoalan yang bisa diselesaikan di tingkat sekolah, tentu diselesaikan di sekolah. Tetapi ketika tidak bisa, dapat dikoordinasikan dengan tim BSAN di tingkat kabupaten,” terangnya.

Sementara itu, Kepala SMP Negeri 3 Jombang, Wiwik Astutik, mengatakan sekolahnya telah menerapkan berbagai langkah untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi peserta didik.

Salah satu langkah awal yang dilakukan adalah membuat kesepakatan kelas yang melibatkan siswa dan guru. Kesepakatan tersebut kemudian ditandatangani bersama sebagai bentuk komitmen untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif.

“Yang pertama membuat kesepakatan kelas, kesepakatan guru, dan juga penandatanganan bersama kesepakatan itu. Itu salah satu program pertama budaya aman dan nyaman,” ungkapnya.

Selain kesepakatan kelas, SMPN 3 Jombang juga memberikan edukasi kepada siswa mengenai berbagai bentuk perundungan dan pentingnya membangun hubungan yang baik antarsiswa.

“ Kami juga telah melaksanakan sosialisasi bersama Densus 88 yang membahas persoalan intoleransi serta perundungan. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan pemahaman kepada siswa agar mampu mengenali dan mencegah perilaku yang dapat mengganggu keamanan serta kenyamanan lingkungan sekolah,” sebutnya.

Menurut Wiwik, budaya aman dan nyaman juga dibangun melalui kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari di sekolah, seperti senyum, sapa, dan salam. Kebiasaan tersebut dinilai mampu membangun kedekatan dan hubungan positif antara siswa maupun guru.

“Kami juga memahamkan kepada anak-anak apa itu perundungan. Bagaimana supaya mereka betah di sekolah dengan situasi yang bisa diterima, disiplin, dan saling merangkul teman. Termasuk juga budaya senyum, sapa, salam,” paparnya.

Wiwik menambahkan, ketika terjadi persoalan antarsiswa, sekolah mengedepankan penyelesaian secara bersama-sama. Pendekatan tersebut dilakukan dengan melibatkan orang tua sehingga persoalan dapat diselesaikan.

“Kalau ada permasalahan, kita tidak harus menggunakan punishment. Tetapi kita panggil orang tua, kita duduk bersama, menyelesaikan bersama-sama,” katanya.

Ia menyebut, penerapan berbagai program tersebut memberikan dampak positif terhadap suasana sekolah. Siswa dinilai semakin nyaman mengikuti kegiatan pembelajaran dan kondisi lingkungan sekolah menjadi lebih kondusif.

“Alhamdulillah dampaknya luar biasa. Anak-anak sekarang lebih kondusif, lebih kerasan di sekolah, lebih tenang di kelas maupun di sekolah,” tandasnya.

Wiwik menegaskan, penerapan budaya sekolah aman dan nyaman juga diarahkan untuk mencegah terjadinya perundungan di lingkungan SMPN 3 Jombang.

“Dengan adanya sekolah aman dan nyaman, di sekolah kami tidak akan ada lagi perundungan, serta bullying,” pungkasnya. (Rud/Nyf).