Jombang, Gerdupapak.com – Pemerintah Desa Pakel, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, ikut serta memeriahkan Ringin Contong Carnival (RCC) 2026, sebagai momentum memperkenalkan sejarah, tradisi, dan kekayaan seni budaya lokal kepada masyarakat luas. Melalui kolaborasi Tari Jemparingan dan Tari Kabariyah, kontingen Desa Pakel mengangkat kisah sejarah yang diwariskan secara turun-temurun sebagai identitas dan kebanggaan desa.

Penampilan tersebut mengangkat sejarah Dusun Jemparingan di Desa Pakel yang menurut cerita lokal berkaitan dengan keberadaan pasukan pemanah Kerajaan Majapahit dalam peperangan melawan Kerajaan Kediri. Kisah kemenangan pasukan tersebut kemudian menjadi inspirasi lahirnya Tari Jemparingan yang menggambarkan keprajuritan, serta Tari Kabariyah yang merepresentasikan kabar gembira atas kemenangan.

Apresiasi yang setinggi tingginya atas penampilan Desa Pakel di ajang RCC 2026. Tari Jemparingan dan Kabariyah ini bukan sekadar tarian, ini adalah jati diri dan sejarah Kecamatan Bareng yang harus di jaga. Hal ini disampaikan Camat Bareng Camat Bareng Tridoyo Purnomo, ketika di konfirmasi, Sabtu (17/10/2026).

“Kecamatan Bareng jangan hanya menjadi penonton atau wilayah yang hanya dilewati ketika ada event besar di Wonosalam. Dengan adanya identitas budaya dari Pakel ini, ditambah dengan potensi wisata alam Pandansili di Desa Ngampungan, wisata petik jeruk, Bale Tani, dan Air Terjun Grenjeng, kita sekarang punya paket lengkap. Saya instruksikan agar semua potensi ini saling terkoneksi dan saling mempromosikan.” tegasnya.

Lebih lanjut, Camat Bareng menegaskan pihaknya akan mendorong promosi terpadu melalui media sosial dan website resmi Kecamatan Bareng.

“Ke depan, Kecamatan Bareng melalui medsos dan website akan turut membantu mempromosikan. Tidak hanya budaya Pakel, tapi juga wisata Pandansili dan desa-desa lain. Kita buat narasi ‘Wisata Sejarah di Pakel, Petualangan Outbound di Pandansili’. Harapannya, wisatawan yang datang ke Jombang tidak hanya ke Wonosalam, tapi juga mampir dan menginap di Bareng. Kuliner harus tetap murah meriah, agar semua warga bisa menikmati,” sebutnya.

Sementara itu, Sekcam Bareng Arfan Budi Sucahyo menyampaikan, Pakel merupakan salah satu desa di Kecamatan Bareng yang memiliki potensi sejarah dan budaya yang perlu terus dikembangkan agar dapat menjadi identitas tersendiri bagi Kecamatan Bareng.

“Dengan tampilnya kontingen di RCC ini, Desa Pakel bisa semakin menunjukkan jati dirinya dan membanggakan Kecamatan Bareng secara umum. Desa Pakel diharapkan menjadi salah satu desa yang memiliki ciri khas budaya, sehingga Kecamatan Bareng juga mempunyai identitas dan keunggulan tersendiri,” ujarnya.

Ia berharap melalui penampilan di RCC 2026, Desa Pakel semakin dikenal masyarakat luas dan mampu memperkuat kebanggaan terhadap potensi lokal Kecamatan Bareng.

“Dengan banyaknya potensi tersebut, Kecamatan Bareng tidak hanya dikenal sebagai wilayah penyangga daerah lain, tetapi juga memiliki kekhasan budaya yang dapat diunggulkan,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Pakel, Sudarmaji, menjelaskan bahwa persiapan untuk mengikuti RCC 2026 telah dilakukan selama kurang lebih tiga minggu. Dalam proses persiapan tersebut, tim kesenian Desa Pakel mengembangkan sejumlah potensi tarian yang telah menjadi bagian dari kekayaan budaya setempat.

“Dari beberapa tarian yang dimiliki desa Pakel, kontingen Desa Pakel memilih Tari Jemparingan dan Tari Kabariyah untuk ditampilkan dalam karnaval. Kedua tarian tersebut dikolaborasikan menjadi satu pertunjukan dengan mempertimbangkan durasi penampilan yang dibatasi sekitar lima menit,” paparnya.

Sudarmaji menjelaskan, Tari Jemparingan menggambarkan sosok prajurit yang membawa senjata panah dan berjuang dalam peperangan. Sementara itu, Tari Kabariyah menggambarkan kabar gembira yang disampaikan kepada masyarakat setelah pasukan memperoleh kemenangan.

“Konsepnya, kami menggabungkan Tari Jemparingan dan Tari Kabariyah. Tari Jemparingan menggambarkan prajurit yang berperang dengan membawa panah, kemudian setelah meraih kemenangan, disambut dengan kabar gembira melalui Tari Kabariyah. Jadi, kedua tarian ini saling berkaitan dan memiliki cerita yang ingin kami sampaikan kepada masyarakat,” jelasnya.

Dalam penampilan tersebut, kontingen Desa Pakel melibatkan total 33 penari. Sebanyak 25 orang membawakan Tari Kabariyah, sedangkan delapan orang lainnya membawakan Tari Jemparingan.

“Para penari berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga sekolah menengah atas (SMA). Keterlibatan generasi muda menjadi bagian dari upaya mengenalkan dan mewariskan kesenian tradisional kepada generasi penerus,” tuturnya.

Sudarmaji menambahkan, sekitar 90 persen peserta yang terlibat merupakan warga Desa Pakel sendiri. Hal ini menunjukkan besarnya partisipasi masyarakat dalam mendukung pelestarian budaya sekaligus menyukseskan penampilan kontingen desa pada ajang RCC 2026.

“Selain berpartisipasi dalam RCC, Desa Pakel juga akan menggelar tradisi Arak Tumpeng Poncodeso pada 8 November 2026 di wilayah Desa Pakel, Kecamatan Bareng. Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya untuk menjaga keberlangsungan tradisi lokal dan memperkuat identitas budaya masyarakat,” tandasnya.

Melalui keikutsertaan dalam RCC 2026, Pemerintah Desa Pakel berharap sejarah dan kesenian tradisional setempat semakin dikenal, tidak hanya di tingkat Kabupaten Jombang, tetapi juga di luar daerah. Kolaborasi seni yang melibatkan masyarakat dan generasi muda diharapkan dapat menjadi modal untuk mengembangkan potensi budaya sebagai daya tarik daerah sekaligus kebanggaan warga Kecamatan Bareng. Pungkasnya. (Rud/Nyf).