Jombang, Gerdupapak.com – Program Bongkar Ratoon (BR) yang digulirkan pemerintah menjadi salah satu upaya strategis dalam meningkatkan produktivitas tebu sekaligus mendukung target swasembada gula nasional. Di Kabupaten Jombang, program tersebut disambut positif karena mampu meringankan beban biaya produksi petani melalui bantuan benih dan tenaga kerja. Namun, keberhasilan program ini dinilai harus dibarengi dengan kebijakan pemerintah yang berpihak kepada petani, terutama terkait Harga Pembelian Pemerintah (HPP) tebu, pengendalian impor gula, serta kepastian pasar bagi hasil panen petani tanpa mengorbankan daya beli masyarakat.

Pada 2026 Kabupaten Jombang memperoleh target Program Bongkar Ratoon seluas 3.000 hektare dan Perluasan Areal Tanam (PAT) seluas 200 hektare. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Pertanian Kabupayen Jombang, Much Rony ketika di konfirmasi di ruangannya, Senin (6/7/2026).

“Dari target tersebut, alokasi indikatif yang diterima Kabupaten Jombang mencapai 2.549,19 hektare untuk kegiatan bongkar ratoon dan 61,9 hektare untuk perluasan areal tanam,” ujarnya.

Ia menjelaskan, hingga Maret 2026 Dinas Pertanian bersama Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan pihak pabrik gula telah melaksanakan verifikasi lapangan. Hasilnya, telah diterbitkan SK Definitif Bongkar Ratoon seluas 447,22 hektare.

Selain itu, Dinas Pertanian masih mengakomodasi usulan kegiatan bongkar ratoon tahun 2026, baik pada lahan tebu eksisting maupun perluasan areal yang menyasar kawasan hutan. Dalam pelaksanaannya, PG Tjoekir terus mendampingi Dinas Pertanian melakukan verifikasi lapangan hingga proses poligonisasi untuk memastikan calon penerima bantuan sesuai dengan ketentuan.

“ Pada Program Bongkar Ratoon 2026, petani akan memperoleh bantuan berupa benih tebu sebanyak 60.000 mata per hektare, serta bantuan 40 Hari Orang Kerja (HOK). Bantuan tersebut diharapkan mampu mengurangi biaya peremajaan tanaman sehingga produktivitas tebu dapat meningkat,” paparnya.

Rony menjelaskan bahwa program ini juga memiliki persyaratan administrasi dan teknis yang harus dipenuhi. Di antaranya petani tergabung dalam kelembagaan resmi seperti kelompok tani, gapoktan, koperasi, Kelompok Tani Hutan (KTH), LMDH atau kelembagaan lainnya, memiliki bukti penguasaan lahan yang sah, serta lokasi budidaya memenuhi ketentuan teknis yang ditetapkan pemerintah.

Meski demikian, menurutnya peningkatan produksi melalui Program Bongkar Ratoon harus dibarengi dengan kebijakan yang memberikan kepastian usaha bagi petani, namun juga tanpa mengurangi daya beli masyarakat.

“ Bantuan pemerintah melalui Program Bongkar Ratoon ini sangat membantu petani karena mampu menekan biaya peremajaan tanaman dan meningkatkan produktivitas. Namun, ketika produksi meningkat, petani juga harus mendapatkan kepastian harga dan pasar. Oleh karena itu diperlukan kebijakan pemerintah mengenai HPP tebu yang memberikan keuntungan yang layak bagi petani,” ucapnya.

Ia menambahkan, pengendalian impor gula juga menjadi faktor penting agar hasil panen petani dalam negeri tidak tertekan oleh masuknya gula impor pada saat musim giling.

” Kami berharap pemerintah dapat mengatur impor gula secara bijaksana, terutama pada musim panen dan giling. Tujuannya bukan semata-mata menghentikan impor, tetapi memberikan ruang bagi gula produksi dalam negeri agar terserap dengan baik tanpa mengganggu stabilitas pasokan nasional,” jelasnya.

Selain itu, Rony menilai perlu adanya lembaga atau badan usaha yang memiliki kewenangan dan kemampuan menyerap hasil panen tebu petani secara berkelanjutan dengan harga yang wajar.

” Petani membutuhkan kepastian bahwa hasil panennya akan dibeli dengan harga yang menguntungkan. Di sisi lain, kebijakan tersebut juga harus tetap menjaga daya beli masyarakat sehingga harga gula di pasaran tetap stabil dan terjangkau. Jadi yang dibangun adalah keseimbangan antara kesejahteraan petani, keberlangsungan industri gula, dan kepentingan konsumen,” tegasnya.

Ia berharap, ketiga aspek tersebut dapat diwujudkan, mulai dari HPP tebu yang adil, pengendalian impor gula yang tepat, hingga adanya lembaga penyerap hasil panen, maka Program Bongkar Ratoon tidak hanya berhasil meningkatkan produktivitas tebu, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional melalui terwujudnya swasembada gula yang berkelanjutan. Pungkasnya. (Rud/Nyf).